
... adalah IDIOM yang makin sering saja berseliweran menembus sulur-sulur kelabu yang masih meregang pada dunia baru. Banyak simpul-simpul yang semula telah terpilin erat, saat ini harus mulai dikendurkan di sana-sini demi mepresisikannya dengan kesejatian yang sesungguhnya tak pernah ada. Sebab, saat kesebangunan antara pikiran dan ruangan telah terbentuk, dan simpul baru telah mulai terjalin, bukan mustahil itupun akan bersifat sangat kontekstual. Dan sebab sifat kontekstualnya itulah maka ia tak dapat digeneralisasi.
Tidakkah kita sadar bahwa bangunan persegi telah menggagahi cara pikir dan cara pandang kita terhadap dunia dan kehidupan? ruang, buku, pintu, komputer, jalan, bangunan, papan tulis, meja, kompor, tempat tidur, dll semua telah didominasi sebuah bentuk yang sangat membosankan; persegi.
Lalu, pernahkan berpikir tentang utara dan selatan, atas dan bawah, kanan dan kiri, benarkah konsep2 itu ada? Coba sekali waktu anda pergi ke langit, lalu putar tubuh anda 180 derajat di ruang jagat raya sana, apakah anda akan merasa terbalik? TIDAK! semua akan sama, putar kanan, putar kiri, putar 180 derajad, ke atas, kebawah, semua tak ada beda! Yang membedakan hanya proses pergerakan dan perpindahannya saja, tapi hal tersebut tidak membuat sebuah eksistensi menjadi berbeda.
Konsep2 yang ada di bumi ini banyak sekali yang relatif secara empiris tetapi masih saja kita dimutlakkan dalam kehidupan sehari-hari. (lihat kalau kita gambar peta, pasti Aceh di atas dan NTT dibawah, padahal realitisnya bisa saja NTT diatas dan Aceh dibawah atau Aceh di Kanan dan NTT di Kiri). Kenapa hal itu bisa terjadi? karena kita semua terlanjur telah sepakat atas sebuah kesalahan dan keabsurdan. Sehingga kalau ada orang yang menggambar Aceh di bawah dan NTT di atas maka akan dibilang gila dan bodoh, kendati sesungguhnya hal itu juga sama benarnya dengan gambar peta pada umumnya.
Maka, manusia telah berabad2 hidup dalam sebuah pola yang sama dan seragam dan tak kreatif. Berpikir dengan cara yang itu-itu saja dan berpjak pada paradigma yang itu-itu saja pula. Cara berpikir geometris dengan bersandar pada aksioma yang absurd: itlah sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia saat ini.


